07/06/2006

Bergerak

Oleh: Rhenald Kasali

"Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan)."

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, "ChaNge"

Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku.

Saya tawarkan uang itu. "Silahkan, siapa yang mau boleh ambil," ujarSaya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius.

Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak. Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk.

Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya. Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya.

Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, "Silahkan ambil, silahkan ambil." Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu. Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu. Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.

Seseorang lalu berteriak, "Kembalikan, kembalikan!" Saya mengatakan, "Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya."

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000. Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?

Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

"Saya pikir Bapak cuma main-main ............"
"Nanti uangnya toh diambil lagi."
"Malu-maluin aja."
"Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!"
"Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu ....."
"Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya...."
"Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas....."
"Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang........."
"Saya, kan duduk jauh di belakang..." dan seterusnya.


Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari. Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari.....,"

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama. Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.

Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari, jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Seperti kata Jack Canfield,yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah "Winners take action.they simply get up and do what has to be done."

Selamat bergerak!

Semoga bermanfaat !

Have a positive day

18:15 Posted in Artikel | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: MQCCBandung

Totalitas Cinta Para Jundi

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Bila ia bicara, kata-katanya bagaikan mutiara. Bila ia diam, ia menyimpan kesejukan. Bila berjalan, matanya sangat terjaga. Bila berperilaku, ia laksana Al-Quran yang berjalan. Ia bagaikan malaikat, memberikan cahaya. Cahaya iman. Jejaknya adalah tauladan bagi setiap orang.

Bila satu kali namanya disebutkan, maka beribu doa dan rahmat terlimpah atasnya. Atas wujudnyalah, lahir cinta sejati. Cinta suci yang tak pernah ternodai. Cinta yang melimpahkan segudang pahala, cinta yang harus diposisikan di atas cinta pribadi, keluarga, saudara, dan kekasih manapun. Ya, ia pantas menjadi sentral totalitas cinta setiap mukmin karena ia adalah qoid. Sang pemimpin.

Sosok sebesar Umar bin Khattab misalnya, ketika ia mengutarakan rasa cintanya: “Wahai Rasulullah, aku sangat mencintaimu di atas segala sesuatu kecuali atas diriku sendiri”. Tiba-tiba cintanya ditolak. “Tidak wahai umar! Aku harus lebih dicintai daripada dirimu sendiri,” tegas Rasulullah.

Akhirnya orang besar inipun mengulangi ikrar cintanya dan menyatakan kecintaannya akan Rasulullah di atas dirinya. Ketika seorang perempuan dari kalangan Anshar dikabari kekalahan umat Islam di Uhud, serta syahidnya ayah, suami, dan saudaranya, ia tiba-tiba panik, dan cemas.

Ya, itulah ekspresi yang dijumpai utusan Rasulullah ketika datang ke rumahnya. Tapi, siapakah yang ia cemaskan? Masa depannya kah? Sedih atas kematian para keluarganyakah? Ternyata yang ia khawatirkan bukan semua itu. Yang ia cemaskan adalah keselamatan
Rasulullah Saw.

“Bagaimana keadaan Rasulullah?” tanya perempuan itu. “Rasulullah baik-baik saja,” sang utusan menjawab. Mendengar ini, ia masih penasaran. Ia minta untuk diantarkan ke haribaan Nabi Saw. Setelah ia melihat dengan jelas bahwa Rasulullah selamat, iapun tampak bahagia. “Alhamdulillah, bila engkau selamat wahai Rasulullah.

Maka segala musibah yang menimpa diriku tidak ada apa-apanya,” ujarnya mantap. Subhanallah! Demi cinta kepada Rasulullah ia tidak lagi ingat akan musibah besar yang menimpa dirinya. Ia tidak lagi berpikir tentang masa depan dan biaya hidupnya.

Hanya keselamatan Rasulullah yang ia pikirkan. Ia benar-benar membuktikan totalitas cintanya kepada manusia fenomenal itu. Cinta itu dibuktikan pula oleh Muhammad bin Maslamah, Ketika Ka’ab bin Asyraf, seorang pemuka Yahudi, begitu getol melontarkan berbagai penghinaan dan pelecehan atas Nabi dan sahabat-sahabatnya.

Atas izin Nabi Saw. ia bersama beberapa sahabat lain pergi mencari kediaman Ka’ab. Setelah ditemukan, akhirnya penghianat Yahudi ini mereka lenyapkan dari muka bumi. Aksi inipun akhirnya menjadi ibrah bagi orang-orang Yahudi dan kaum kuffar untuk tidak sekali-kali menghina Rasulullah.

Al-fadlu mâ syahidahu al-a’dâ‘. Totalitas cinta inipun tidak hanya diakui oleh para pengikutnya saja. Musuh-musuhnya pun mengakui sejujurnya. Abu Sufyan misalnya (sebelum ia masuk Islam) terhenyak melihat sikap seorang Khubaib bin ‘Adiy. Meski telah bersimbah darah, disiksa habis-habisan, ia tegar di atas cinta dan keimanannya.

Ketika ia ditanya: “Wahai Khubaib, maukah engkau bila Muhammad menggantikan posisimu sekarang ini dan engkau selamat?” Khubaibpun menjawab: “Demi Allah, aku tidak rela satu duri saja melukai Muhammad, sedang aku dalam keadaan sehat bersama keluargaku.”

Abu Sufyan bergumam takjub: “Sungguh, aku belum pernah melihat cinta, sebesar cinta para sahabat Muhamad kepadanya.” Masih banyak momen menakjubkan yang membuktikan kedalaman cinta para sahabat dalam membela Rasulullah dari tangan-tangan jahiliah. Meraka korbankan jiwa dan harta untuk menjaga kehormatan sang panutan ini. Tidak hanya dibibir saja.

Saudaraku, disini kita perlu muhasabah sejenak. Menanya diri, seberapa besarkah cinta kita untuk baginda Nabi? Sempatkah terbersit dalam benak kita untuk mengorbankan apa saja dalam membelanya? Ketika menyaksikan manusia-manusia jahili Eropa melecehkannya, apa bukti kongkrit yang telah kita persembahkan untuk menjaga citra luhurnya? Ataukah hati ini masih berat untuk memposisikan sosok yang agung ini sebagai sentral cinta? Masih terlalu hegemonikkah cinta dunia menyingkirkan benih-benih cinta hakiki?

Saudaraku, kita rindu kehadiran sosok-sosok sekelas perempuan anshar, Muhammad bin Maslamah, dan Khubaib bib ‘Adiy. Manusia-manusia yang sukses menorehkan bukti cinta total kepada kekasih Allah. Mereka yang mempertaruhkan jiwa di depan segenap gelombang penghinaan atas nabi Muhamad Saw. Namun lâ takhruju al-amwâtu min qubûrihim, orang mati tidak akan bangkit lagi. Tiada siapa-siapa lagi, kecuali kita.

Saudaraku, tidak ada kata ‘nanti‘ untuk membuktikan cinta ini. Buktikan totalitas cinta kita sebagai jundi, sebagaimana totalitas jundi-jundi terdahulu. Selamat merajut cinta.

16:49 Posted in Artikel | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: MQCCBandung