05/26/2006

Pada Mulanya Adalah I'tikaf

Setiap kamis sore selepas 'ashar, saya pergi dari rumah menuju kawasan Bandung Barat, tepatnya jalan Gegerkalong Girang, lokasi Pesantren Daarut Tauhiid. Dengan menumpang angkot 2 kali, jurusan Karang Setra-Cibaduyut, disusul angkot jurusan Sarijadi-Ciroyom, sampailah saya di Daarut Tauhiid. Acara rutin kamis sore itu saya jalani semenjak tahun 1999. Bulannya saya lupa lagi. Pada awalnya kepergian saya ke Daarut Tauhiid adalah untuk menambah ilmu, mengingat saya ketika itu (1999-red) ikut mengurus kegiatan Madrasah Nurul Huda. Sebuah madrasah yang ramai oleh kegiatan Majelis Taklim, di kampung tempat saya tinggal, sekitar kawasan Monumen Perjuangan Rakyat, Tegallega, Bandung. Mulai tahun 1999 hingga tahun 2003, saya menempuh perjalanan "dari ujung ke ujung" (istilah orang Bandung), bertemankan kruk kayu yang selalu setia menyangga setiap langkah perjalanan saya menuju majelis ilmu. Walaupun saya seorang difabel, tapi tak goyah atau lelah tubuh dan jiwa ini untuk terus mengayun langkah, menghadiri pengajian rutin malam jum'at asuhan KH Abdullah Gymnastiar.

Melihat banyak orang yang melakukan i'tikaf, berdiam diri di masjid setelah acara pengajian dan muhasabah jum'at di Masjid Daarut Tauhiid, sayapun ikut tertarik untuk bermalam juga. Jarang saya langsung pulang setiap acara muhasabah malam jum'at. Dari rumah saya bekal handuk good morning, odol dan sikat gigi, agar bisa mandi jum'at pagi di kamar mandi bagian bawah masjid. Kalau lapar saya menyeberang sebentar malam-malam ke warung indomie. Untuk sekadar menyantap mie rebus, roti kukus atau cukup semangkuk bubur kacang. Sering hidung ini tergoda mencium bau bakar-bakaran, jika malam larut di pelataran masjid. Tapi tidak pernah saya beli makanan panggangan, apalagi bakar ayam, sebab perut saya entah kenapa alergi terhadap daging ayam. Suka sakit perut lantas diare. Kapok. Pernah saya semalaman tidur duduk di toilet, karena nekat menyantap sate ayam yang disuguhkan waktu bertamu ke rumah Kyai Muchsin, seorang ulama khos pimpinan Pesantren Cijulang.

Pada suatu jum'at pagi, setelah pernah beberapa minggu saya absen dari acara muhasabah, ketika sedang beristirahat, sandar-sandaran di tiang masjid, tiba-tiba ada yang menepuk bahu saya.

"Kemana aja Bos ?"kata orang yang menepuk saya itu. Sejurus saya berbalik dan kaget bersitatap dengan orang yang menegur, yang ternyata adalah Aa Gym, pengasuh Pesantren Daarut Tauhiid. Deg-degan. Dengan terbata-bata saya menjawab, "Sibuk di madrasah, Aa."

Aa mengangguk, mengambil posisi duduk dekat dengan saya, sampai tercium harum parfum seperti wangi-wangian Arab, yang dipakainya ketika itu.

"Di madrasah teh kerja atau aktif kegiatan saja ?"

"Aktif kegiatan saja, A', tidak sebagai pekerjaan tetap."

"Jadi lom punya kerjaan tetap ya ?"

"Iya, A'"

"Hobinya apa, Bos ?"

"Komputer-komputeran, A'" jawab saya malu-malu, sebab orang yang saya panuti dan kagumi ini tak disangka-sangka bisa berbincang sedekat itu dengan saya.

Aa Gym manggut-manggut, lalu bangkit dan sebentar kemudian pergi meninggalkan saya setelah mengucapkan salam dan menepuk pundak saya. Alhamdulillah. Kaget tapi bahagia betul saya pada hari jum'at pagi itu.

Pada kamis sore minggu depannya, saya kembali menempuh perjalanan dari rumah ke Pesantren Daarut Tauhiid. Dengan kruk "sang kawan setia", handuk good morning, odol, sikat gigi dan uang bakal jajan, saya berangkat untuk muhasabah dan bermalam di Daarut Tauhiid. Sepanjang Aa ceramah saya duduk khusyuk memperhatikan, masih bersandar di tiang sebelah utara masjid seperti biasanya. Selepas ceramah saya kembali beri'tikaf, lalu beristirahat tanpa memendam kesan apapun. Tenteram saja seperti biasa.

Pagi harinya, ketika saya baru saja hendak berangkat pergi sarapan lalu pulang ke Tegallega, tiba-tiba Aa Gym menghampiri dan mengajak saya ikut ke rumahnya. Baru pagi hari itu saya duduk di beranda rumah Aa yang sederhana tapi bersih itu, setelah sekian lama hanya menyaksikan banyak orang lewat dan berkunjung ke rumah Aa Gym. Saya tengok kiri-kanan, sedikit kebingungan karena ditinggalkan sendirian di beranda oleh Aa, tanpa wejangan apapun. Grogi sekali saya.

Tapi tak seberapa lama, Aa Gym datang bersama seorang laki-laki muda, mungkin seumur dengan saya, yang berjalan disamping Aa Gym sambil setengah merunduk. Itu sikap khidmat yang hendak ditunjukkannya kepada sang ulama, barangkali.

"Dan, perkenalkan, ini Yoyon."ucap Aa Gym memperkenalkan saya pada laki-laki muda kerempeng dengan air muka lembut namun lelah yang datang bersama beliau. Saya pikir, saya kira, diapun sama-sama jamaah majelis taklim malam Jum'at. Sebab wajahnya itu menunjukkan sedikit mengantuk, walaupun bau badannya seperti wangi orang yang baru saja sesaat mandi.

"Dadan."balas saya kemudian memperkenalkan diri.

"Yoyon." balas lelaki muda itu mengulurkan tangannya.

Sejenak bercakap-cakap soal minat dan kebisaan saya di bidang komputer, tanpa saya duga Aa Gym merekomendasikan saya untuk bekerja dibawah koordinasi Yoyon Nuryana, laki-laki yang kemudian saya tahu akrab dengan panggilan Kang Yoyon, dan ternyata pimpinan divisi usaha MQ IT (Manajemen Qolbu Information Technology). Aa Gym kemudian mempersilahkan Kang Yoyon mengajak saya pergi menuju lokasi kerja MQ IT. Singkat cerita, saya diperkenalkan dengan santri karya MQ IT, kemudian mulai hari seninnya bekerja di situ. Saya dapat tugas menjadi penulis berita, yang diterjemahkan dan diperbaiki dari beberapa kiriman artikel terkini dari dalam dan luar negeri.

Kalau saya teringat masa-masa itu, masa awal-awal saya masuk kerja, sering saya senyam-senyum sendiri, lantas memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah 'azza wa jalla. Betapa hikmah i'tikaf telah mempertemukan saya dengan jalan ridzki, yaitu bekerja di MQ IT. Di jaman orang-orang begitu sulit mencari kerja, saya yang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) dan baru segitu-gitu-nya bisa mengoperasikan komputer sudah dipercayai untuk mengedit berita-berita untuk pemirsa manajemenqolbu.com. Dan sekarang, saat manajemenqolbu.com telah menjadi cyberMQ, dengan manajemen dan prospek usaha yang lebih besar dan cerah, saya bangga karena walau dengan keterbatasan fisik (saya seorang difabel), saya bisa berjuang bersama teman-teman dan berpartisipasi penuh demi mewujudkan media dakwah yang jangkauannya luas dan aksesornya banyak. Pernah suatu kali seorang reporter lintas media, namanya Mas Sandi Muda bertanya mengenai suka dan duka saya bekerja di CyberMQ, sayapun menjawab : sukanya banyak, dukanya nggak ada. Ya, di cyberMQ ini saya bisa menambah banyak wawasan dan berteman dengan rekan-rekan senior yang suka memberi motivasi. Bagi saya, bekerja di cyberMQ semua episodenya melulu having fun. Saya suka pekerjaan saya sebagai redaktur dan koordinator database artikel dan berita terkini. That's my job, now. And i love it. Insya Allah.


*Koordinator Database CyberMQ dan Personal Mediator Komunitas CyberMQ

22:20 Posted in Artikel | Permalink | Comments (1) | Email this | Tags: MQCCBandung

Permainan .... Serius

Seorang guru wanita dengan bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada pemadam. Guru itu berkata, "Saya punya satu permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada pemadam. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat pemadam ini, maka katalah "Pemadam!"

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.

Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah "Pemadam!", jika saya angkat pemadam, maka katakanlah "Kapur!". Dan diulangkan seperti tadi. Tentu saja murid-murid tadi banyak yang keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak, begitulah kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang batil itu batil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita dengan perbagai cara, untuk menukarkan sesuatu, dari yang haq menjadi batil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kita menerima hal tersebut, tapi kerana terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita akan terbiasa dengan hal itu. Dan kita mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kita tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan ketika. "Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, Zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain lain."

"Semuanya sudah terbalik." lanjutnya, "Dan tanpa disadari, kita sedikit demi sedikit menerimanya tanpa rasa bahwa itu merupakan satu kesalahan dan kemaksiatan. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya.

"Paham Bu..."

"Baik permainan kedua..." begitu Guru melanjutkan. "Ibu ada Qur'an, Ibu akan letakkannya di tengah karpet. Sekarang kamu berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah tanpa memijak karpet?"

Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencuba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.

Akhirnya Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kita dengan terang-terang. Karena tentu kita akan menolaknya mentah mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."

"Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina tapak yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau dimulai dengan tapaknya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, terus dipindahkan dulu, Almari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan meletihkan kita. Mulai dari perangai kita, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kita muslim, tapi kita telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara-cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kita... "

"Kenapa mereka tidak berani terang-terang memijak-mijak Ibu?" tanya salah seorang murid.

"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi." "Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar".

"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari berdoa dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik takala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya...

Begitu pula bagi para netter, ada apa pula gerangan yang sedang Anda pikirkan.?

22:05 Posted in Artikel | Permalink | Comments (6) | Email this | Tags: MQCCBandung